AQUACULTURE SUBJECT

THE FUTURE CHOICE

Senin, 11 Desember 2017

KEBUTUHAN PROTEIN IKAN BUDIDAYA

KEBUTUHAN PROTEIN IKAN BUDIDAYA

A.      Pendahuluan

Deskripsi
Lingkup materi yang diajarkan dalam bab ini adalah asam amino dan protein, dan evaluasi kualitas protein.

Relevansi
Selesai mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan komponen nutrisi penghasil energi berdasarkan nilai protein dan energi yang dikandung, dan membuat penilaian terhadap kualitas protein melalui evaluasi nilai protein. Materi ini merupakan lanjutan dari mata kuliah biokimia dan biologi.

Kompetensi Khusus
       Selesai mengikuti materi kuliah ini mahasiswa mampu :
1. Menyebutkan komponen makanan penghasil energi yang berasal dari protein untuk ikan
2. Menjelaskan kebutuhan asam amino dan protein untuk ikan
3. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kebutuhan protein
4. Menjelaskan perbedaan kebutuhan jenis asam amino esensial pada ikan air tawar dan ikan laut
5. Membuat formulasi pakan berdasarkan kebutuhan protein metode kuadrat
6. Mengevaluasi kualitas pakan melalui analisa kualitas protein

B. Materi

1. Pendahuluan
Setiap organisme membutuhkan nutrisi yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ikan membutuhkan nutrisi untuk mendukung kebutuhan energinya yang bersumber dari protein, lemak dan karbohidrat. Selain nutrien penghasil energi, dibutuhkan juga nutrien lain seperti vitamin dan mineral yang menyokong pemanfaatan protein, lemak dan karbohidrat.
Istilah protein berasal dari bahasa yunani yaitu proteos , yang berarti yang utama atau yang didahulukan. Kata ini di perkenalkan oleh ahli kimia Belanda, gerardus mulder (1802-1880). Ia berpendapat bahwa protein adalah zat yang  paling penting dalam setiap organisme atau senyawa organik kompleks yang tersusun atas asam amino yang mengandung unsur C (carbon), H (hidrogen), O (oksigen), dan N (nitrogen) yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat.
Protein juga merupakan bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein separuhnya ada di dalam otot, seperlima dalam tulang dan tulang rawan, Sepersepuluh dalam kulit dan selebihnya dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Disamping itu, asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor, sebagian besar koenzim, hormon, asam nukleat, dan molekul-molekul esensial untuk kehidupan. Setiap jenis  protein mempunyai jumlah dan urutan asam amino yang khas.
Protein juga merupakan suatu molekul kompleks yang besar (makromolekul), yang terbentuk dari molekul asam amino (20 macam), di mana asam amino satu sama lain berhubungan dengan ikatan peptida. Protein merupakan nutrisi utama yang mengandung nitrogen dan merupakan unsur utama dari jaringan dan organ tubuh hewan dan juga senyawa nitrogen lainnya seperti asam nukleat, enzim, hormon, vitamin, dan lain-lain. Di dalam sel, protein terdapat baik pada membran  plasma maupun membran internal yang menyusun organel sel seperti mitokondria, retikulum endoplasma, nukleus dan badan golgi dengan fungsi yang  berbeda-beda tergantung pada tempatnya. Protein-protein yang terlibat dalam reaksi biokimia sebagian besar berupa enzim banyak terdapat di dalam sitoplasma dan sebagian terdapat pada kompartemen dari organel sel. Protein merupakan kelompok biomakromolekul yang sangat heterogen. Ketika berada di luar makhluk hidup atau sel, protein sangat tidak stabil.
Secara umum, protein dengan komposisi asam amino yang sama dengan tubuh ikan mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dalam pembuatan pakan dapat diformulasi dari beberapa sumber protein untuk mensimulasi komposisi asam amino yang sesuai dengan asam amino tubuh ikan. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh ikan dalam pertumbuhannya, tidak dapat dbentuk/disintesis oleh ikan serta harus tersedia dalam pakan. Sedangkan asam amino non esensial dapat disintesis dalam tubuh ikan itu sendiri dengan bantuan unsur-unsur lain dalam tubuh ikan.
Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible energy) dalam protein  juga dapat dimetabolisme dengan lebih baik oleh tubuh ikan. Selain sebagai sumber energi, protein pada ikan juga berfungsi memperbaiki jaringan rusak, membantu pertumbuhan ikan, sebagai enzim, pembentuk antibody, penyembuh luka dan meregenerasi sel terutama kulit, pengatur metabolisme tubuh, penghancur dan penetral zat-zat asing yang terdapat di dalam tubuh dan sebagai penyeimbang asam basa dengan cairan tubuh, dengan cara menjaga stabititas ph cairan yang ada di dalam tubuh itu sendiri. Fungsi protein yang terdapat pada hemoglobin yang memiliki peran dalam pembentukan sel darah merah, dapat mengangkut oksigen pada eritrosit. Sedangkan protein yang terdapat pada mioglobin akan mengangkut oksigen pada otot. Protein dibutuhkan oleh tubuh ikan secara kontinue karena asam amino dalam protein dibutuhkan secara terus menerus terutama untuk mengganti protein rusak selama masa pemeliharaan dan membentuk protein  baru selama masa pertumbuhan dan masa reproduksi

Protein
Dalam dunia perikanan budidaya, pertumbuhan menjadi salah satu faktor yang menjadi pertimbangan. utama. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh spesies, strain genetik,jenis kelamin, umur. Pertumbuhan juga bdipengaruhi oleh kualitas makanan (keseimbangan nutrien, kandungan energi, nilai kecemaan) dan kondisi lingkungan (temperatur air, ketersediaan oksigen bebas, aliran air, dan lain-lain).
Protein merupakan unsur yang paling penting dalam penyusunan formulasi  pakan karena usaha budidaya mengharapkan pertumbuhan ikan yang cepat. Dalam hal ini mempunyai fungsi bagi tubuh ikan yaitu:
1.  Sebagai zat pembangun
yaitu membentuk jaringan baru untuk pertumbuhan, menganti jaringan yang rusak maupun untuk reproduksi.
2.  Sebagai zat pengaturmyang berperan untuk pembentukkan enzim dan hormon  penjaga dan pengatur berbagai proses metabolisme di dalam tubuh.
3.  Sebagai zat pembakar karena unsur karbon yang terkandung didalamnya dapat difungsikan sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Molekul protein tesusun dari sejumlah asam amino sebagai bahan dasar. Mutu protein sangat ditentukan oleh komposisi asam amino penyusunnya komposisi ini akan berbeda antara satu bahan dengan  bahan lainnya.

Berdasarkan bentuknya, protein dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
a.       
P     Protein globular
Protein globular adalah protein yang rantai-rantai polipeptidanya berlipat rapat-rapat menjadi bentuk globular atau bulat yang padat atau berbentuk bola. Protein ini biasanya larut dalam air, berdifusi dan mempunyai fungsi gerak atau dinamik. Contohnya enzim, protein transport pada darah, hormon protein, protein pecahan serum darah, antibody dan protein penyimpan nutrient.

b.      Protein serabut
Protein serabut adalah protein yang tidak larut dalam air dan merupakan molekul serabut panjang dengan rantai polipeptida yang memanjang pada satu sumbu dan tidak berlipat menjadi globular. Protein serabut ini terdiri dari suatu rantai panjang polipeptida. Protein ini memberikan peranan struktural atau pelindung. Contohnya collegen yang ditemukan dalam tulang rawan atau lembut, pembuluh darah, acuaan/matrik tulang, urat daging, sirip, kulit dan elastin.

c.       Protein konjugasi
Merupakan protein sederhana yang terikat dengan baha-bahan non-asam amino. Nukleoprotein terdaoat dalam inti sel dan merupakan bagian penting DNA dan RNA. Nukleoprotein adalah kombinasi protein dengan karbohidrat dalam jumlah besar. Lipoprotein terdapat dalam plasma-plasma yang terikat melalui ikatan ester dengan asam fosfat sepertu kasein dalam susu. Metaloprotein adalah protein yang terikat dengan mineral seperti feritin dan hemosiderin adalah protein dimana mineralnya adalah zat besi, tembaga dan seng.

Berdasarkan sifat fisis, protein digolongkan menjadi 3 yaitu:
a.       
       Protein sederhana
Protein sederhana adalah protein yang pada saat dihidrolisis hanya menghasilkan asam amino atau derivat-derivatnya. Jenis protein ini yaitu albumin (zat putih telur), zat serum dari darah, laktoalbumin dari susu, leucogin dari gandum, albuminoids (keratin dari rambut, kuku, bulu, wol, sutra fibroin, elastin dari jaringan), globulins (edestin dari biji rami, serum globulin dari darah, laktoglobulin dari susu, legumin dari kacang polong), histones (globin dari hemoglobin, scombrone dari spermatozoa) dan protamins (salmine dari ikan salem, scombrine).

b.      Protein gabungan
Protein gabungan adalah protein sederhana bergabung dengan radikal non protein. Jenis protein ini yaitu nucleoprotein, glikoprotein, phospoprotein, hemoglobin dan lecithoprotein. Nucleoprotein adalah gabungan dari satu atau lebih molekul protein dengan asam nukleat. Glikoprotein adalah gabungan dari molekul protein dan unsur karbohidrat dari asam nukleat atau lesitin. Phospoprotein adalah gabungan molekul protein dengan zat yang mengandung phosphor dari asam nukleat atau lecithin. Hemoglobin adalah gabungan molekul protein dengan hematin atau zat-zat yang sejenis. Lecithoprotein adalah gabungan molekul protein dengan lecithin.

c.       Protein asal
      Protein asal adalah protein yang berasal dari protein bermolekul tinggi yang mengalami degradasi karena pengaruh panas, enzim atau zat-zat kimia.

   Berdasarkan fungsinya yang berhubungan dengan daya dukungnya bagi pertumbuhan badan dan bagi pemeliharaan jaringan dibagi menjadi tiga yaitu:
a.       
      Protein sempurna (protein lengkap)
Disebut sebagai protein sempurna bila protein ini sanggup mendukung pertumbuhan badan dan pemeliharaan jaringan. Protein jenis ini adalah protein kelas tertinggi ditinjau dari fungsi gizinya, sanggup mendukung pertumbuhan badan maupun pemeliharaan jaringan yang aus atau rusak terpakai. Jenis protein inilah yang diperlukan oleh anak-anak yang sedang tumbuh (balita) pesat. Anak yang tidak memperlihatkan laju pertumbuhan yang baik, tidak dapat dikatakan anak sehat.

b.      Protein setengah sempurna (protein setengah lengkap)
Disebut sebagai protein setengah sempurna bila sanggup mendukung pemeliharaan jaringan, tetapi tidak dalap mendukung pertumbuhan badan. Protein ini sanggup memelihara kesehatan orang dewasa yang tidak lagi menunjukkan adanya pertumbuhan badan, tetapi masih memerlukan pemeliharaan jaringan yang rusak atau aus terpakai. Tetapi jenis protein yang tidak sanggup mendukung pertumbuhan ini tidak baik bagi anak-anak yang masih memerlukan pertumbuhan tersebut. Jadi protein ini tidak dapat diberikan kepada anak-anak yang sedang tumbuh sebagai sumber protein satu-satunya di dalam hidangan.
c.       
      Protein tidak sempurna (protein tidak lengkap)
      Disebut sebagai protein tidak sempurna bila sama sekali tidak sanggup menyokong pertumbuhan badan, maupun pemeliharaan jaringan. Protein ini tidak sanggup mendukung kesehatan siapapun, karena tidak sanggup memelihara jaringan yang uas terpakai dan rusak, apalagi mendukung pertumbuhan badan. Meskipun dikonsumsi dalam jumlah besar, kualitas protein ini akan dibakar untuk menghasilkan energi dan tidak ada yang dipergunakan untuk sintesa protein tubuh yang diperlukan untuk pertumbuhan maupun pemeliharaan jaringan.
     
      Berdasarkan strukturnya, protein dikelompokkan menjadi 4 yaitu:
a.       Struktur primer
      Merupakan struktur rangkaian asam amino yang memanjang pada suatu rantai polipeptida.

b.      Struktur skunder
      Merupakan asam amino dalam rangkaian polipeptida yang membentuk suatu lilitan.

c.       Struktur tersier
      Merupakan bentuk tiga dimensi dari semua atom di dalam molekul protein.

d.      Struktur kwarterner
      Merupakan bentuk protein yang terdiri dari dua atau lebih rantai polipeptida menjadi bagian dari molekul protein tunggal.

Kebutuhan protein
Protein adalah unsur pokok penyususnjaringan dan organ hewan serta senyawa mengandung nitrogen seperti asam nukleat, enzim, hormon, vitamin, dan lain-lain. Protein tersusun dari unsur karbon (50-55%), hidrogen (5-7%) dan oksigen (20-25%) serta nitrogen (15-18%). Kebanyakan protein juga mengandung sulfur, dan sedikit fosfor dan besi. Asam amino adalah penyusun protein, dan sekitar 23 asam amino telah berhasil diisolasi dari alam. Sepuluh asam amino diantaranya tidak dapat diproduksi tubuh ikan sehingga harus tersedia dalam makanannya. Asam amimo yang tidak dapat dibuat dalam tubuh disebut sebagai asam amino esesnsial.
Sekitar 50% dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein. Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel dan jaringan tubuh, terutama bagi ikan-ikan muda. Kebutuhan protein sendiri bervariasi tergantung pada jenis ikannya. Meskipun demikian, protein adalah unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan pada seluruh jenis ikan. Pada umumnya, ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat (unggas dan mamalia). Jenis dan umur ikan juga berpengaruh pada kebutuhan protein. Ikan karnivora membutuhkan protein yang lebih banyak daripada ikan herbivora, sedangkan ikan omnivora berada diantara keduanya. Pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20-60%, dan optimum 30 – 36% (Masyamsir, 2001). Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein dapat digolongkan secara garis besar sebagai berikut yaitu ikan-ikan herbivor 15-30% dari total pakan dan 45% bagi ikan karnivor. Sedangkan untuk ikan-ikan omnivor diperlukan dengan kandungaan protein 50%.
Pakan buatan adalah makanan bagi ikan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan kebutuhan nutrien ikan. Formulasi suatu pakan ikan harus memenuhi kebutuhana nutrisi ikan yang dibudidayakan dalam hal kebutuhan protein, lemak, dan karbohidrat (Watanabe, 1998). Oleh karena itu, dibutuhkan suatu formulasi pakan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ikan sehingga ikan dapat tumbuh dengan baik. Protein merupakan kumpulan asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida (NRC, 1993). Ikan dapat menggunakan protein secara efesien sebagai sumber energi. Selain itu, protein yang berfungsi untuk mempertahankan metabolisme tubuh, seperti mengganti jaringan yang rusak dan membentuk 13 jaringan yang baru. Ikan yang kekurangan sumber protein, mengalami pertumbuhan yang terhambat. Hal tersebut yang menyebabkan terjadinya penurunan bobot ikan karena protein yang terkandung dalam jaringan tubuh ikan dipecah kembali untuk mempertahankan fungsi jaringan tubuh yang lebih penting (NRC, 1993).
Kandungan protein yang optimal pada pakan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keseimbangan antara protein dan energi, komposisi asam amino, dan kecernaan protein. Kebutuhan protein optimum bagi ikan sekitar 25-36%. Penggunaan protein nabati dalam pakan dibatasi karena lebih sulit dicerna dibandingkan dengan protein hewani. Protein nabati terbungkus oleh dinding selulose yang sukar dicerna dan kandungan metioninnya rendah. Kandungan metionin dalam pakan buatan dapat disuplai oleh tepung ikan. Pemberian nutrisi penghasil energi seperti lemak dan karbohidrat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai sumber energi sehingga dapat menghemat penggunaan protein pakan (protein sparing effect) (Gusrina, 2008).
Dalam penyusunan ransum ikan perlu diperhatikan keseimbangan antara protein dan energi. Pakan yang kandungan energinya rendah dapat menyebabkan ikan menggunakan sebagian protein sebagai sumber energi untuk metabolisme, sehingga bagian protein untuk pertumbuhan menjadi berkurang. Sebaliknya jika kandungan energi pakan terlalu tinggi dapat membatasi jumlah pakan yang dimakan. Keadaan ini dapat membatasi jumlah protein pakan yang dimakan ikan, akibatnya pertumbuhan ikan menjadi relatif rendah (Lovell, 1988). Manfaat adanya karbohidrat dalam pakan adalah bahwa pakan yang mengandung karbohidrat dan lemak yang tepat dapat mengurangi penggunaan protein sebaai sumber energi yang dikenal sebagai protein sparing effect. Terjadinya protein sparing effect oleh karbohidrat dan lemak dapat menurunkan biaya produksi (pakan) dan mengurangi pengeluaran limbah nitrogen ke lingkungan (Shiau dan Huang, 1990; Peres dan Teles, 1999).
Kebutuhan protein untuk ikan bervariasi berdasarkan spesies, ukuran ikan, kondisi lingkungan, serta kualitas protein dan daya cema pakan. Umumnya ikan membutuhkan protein 35-50%, ikan kamivora membutuhkan protein 40-50% dan omnivora 25-35%. Kebutuhan protein untuk catfish antara 24-40%. Pertumbuhan spesifik ikan P. hypophthalmus tertinggi 4,0 dan 4,1 % per hari masing-masing pada kadar protein pakan 35 dan 45%, dan kedua nilai pertumbuhan ini tidak berbeda nyata.

Kelebihan dan Kekurangan Protein
a.    Kelebihan Protein
Kelebihan protein dalam pakan akan mengakibatkan ikan memerlukan energi ekstra untuk melakukan proses deaminasi dan mengeluarkan amoniak sebagai senyawa yang bersifat racun sehingga energi yang digunakan untuk pertumbuhan ikan akan berkurang.
b.    Kekurangan Protein
Kekurangan protein dalam pakan akan mengakibatkan pertumbuhan yang negatif karena protein yang disimpan di dalam jaringan otot akan dirombak menjadi sumber energi sehingga pertumbuhan ikan menjadi terhambat ataupun dalam proses biokimiawinya.
Penyakit yang ditimbulkan dari kekurangan protein yaitu keriput pada kulit, insang terlihat tidak cerah, tubuh membengkak, sirip rusak, pertumbuhan lambat, gerakan lemas dan berenang secara tidak teratur.
Gejala yang ditimbulkan dari kekurangan protein yaitu kurang nafsu makan, efesiensi pakan buruk, perut gembung, perubahan warna kulit, rentan penyakit, kelainan bentuk tulang, sirip rontok, mata menonjol, frekuensi pernafasan cepat (megap-megap), tumbuh lambat, pendarahan kulit dan iritasi.
Jika pada pakan tidak terdapat protein, maka tidak akan ada sumber energi untuk pembaruan atau mengganti jaringan yang rusak dan memperlambatnya pertumbuhan pada ikan.

Asam amino
Jumlah protein yang diperlukan dalam pakan secara langsung dipengaruhi oleh komposisi asam amino pakan. Asupan protein yang ideal adalah sumber penyediaan Asam Amino yang mana sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang maksimum dan ketahanan kesehatan ikan, dimana ikan seperti hewan lain tidak  memiliki kebutuhan protein yang mutlak tetapi memerlukan suatu campuran yang seimbang antara asam amino esensial dan non-esensial. Kekurangan asam amino esensial menyebabkan 5 penurunan pertumbuhan. Jumlah asam amino yang akan digunakan untuk pertumbuhan juga semakin menurun seiring dengan penurunan tingkat pertumbuhan. Jumlah asam amino yang digunakan untuk pertumbuahan dan maintenance sangat tergantung dengan kualitas protein, tingkat asupan protein dan kandungan energi yang dapat dicerna dari pakan serta keadaan fisiologi ikan itu sendiri. Asam amino yang digunakan sebagai sumber energi akan dideaminasi dan dilepaskan sebagai amonia yang akan dikeluarkan melalui insang. Pakan yang mempunyai kualitas protein yang baik akan menghasilkan eksresi nitrogen yang lebih sedikit dari pada pakan yang mempunyai kualitas protein yang buruk.
Komposisi asam amino esensial yang dibutuhkan ikan :
·         Arginin bersama dengan sentrolin terlibat dalam sintesis ureum dalam hati.
·         Histidin merupakan asam amino esensial bagi pertumbuhan larva dan anak-anak ikan. Histidin diperlukan untuk menjaga keseimbangan nitrogen dalam tubuh.
·         Isoleusin dibutuhkan dalam produksi dan penyimpanan protein oleh tubuh dan pembentukan hemoglobin, juga berperan dalam metabolisme dan fungsi kelenjar pituitari.
·         Leusin berperan penting dalam proses produksi energi tubuh, terutama dalam mengontrol sintesa protein.
·         Lisin yang terdifesiensi dalam ransum ikan dapat menyebabkan kerusakan pada sirip ekor (nekrosis), yang apabila berkelanjutan dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Tingkat penggunaan lisin dipengaruhi oleh kadar arginin, urea. dan amonia. Ketika terjadi degradasi arginin, maka penggunaan lisin akan meningkat.
·         Metionin diperlukan tubuh dalam pembentukan asam nukleat dan jaringan serta sintesa protein. Juga menjadi bahan pembentuk asam amino lain (sistein) dan vitamin (kolin). Metionin bekerja sama dengan vitamin B12 dan asam folat dalam membantu tubuh mengatur pasokan protein berlebihan dalam diet tinggi protein. Ikan membutuhkan metionin dalam pakan sebesar 2.30% protein pakan. Kekurangan asam amino metionin ini dapat diatasi dengan adanya asam amino non esensial sisten yang dapat mengganti metionin sampai 60%.
·         Fenilalanin berfungsi sebagai prekursor tirosin dan bersama membentuk hormon-hormon tiroksin dan epineprin.
·         Triptofan merupakan precursor untuk biosintesis serotonin yang dapat menurunkan sifat agresif pada ikan.
·         Valin berfungsi dalam pertumbuhan, terutama dalam sistem pencernaan dan saraf.
Asam amino non esensial terbentuk selama prosesing kolagen sesudah ditranslasi.  Brikut ini komposisi asam amino non esensial yang dibutuhkan ikan:
·         Asam aspartat : Berfungsi sebagai biosintesis urea , biosintesis nukleotida purin, biosintesis nukleotida pirimidin, berlaku sebagai neurotransmitter.
Asam glutamat : Berperan pada katabolisme N asam amino (transaminasi), merupakan komponen glutathion dan tetrahidrofolat, dekarboksilasi pada neuron à GABA (gamma amino butyric acid)
·         Asam Glutamin : Berfungsi mengangkut amonia dari jaringan ekstra hepatik ke hati dan sphlanchnic bed, ikut dalam biosintesis nukleotida purin, ikut dalam biosintesis nukleotida pirimidin, menghasilkan ion amonium melalui kerja glutaminase pada respon renal terhadap asidosis reaksi detoksifikasi di hati dan merupakan zat bakal glutamat dalam neuron serta bahan bakar utk enterosit.
·         Serin : Berfungsi menyediakan C untuk sintesis cystein. Merupakan bagian dari fosfatidil dan diperlukan utk sintesis sfingolipid serta sumber utama unit 1-carbon dalam tubuh.
·         Glisin : Berkaitan dgn sintesis heme, purin, glutation (glu-cys-gly), asam glikokholat, kreatin, asam hipurat.
·         Histidin : Merupakan zat bakal unit karbon-tunggal / onecarbon unit(formimino-fh4), Dekarboksilasi à histamin à merangsang sekresi asam lambung dan kontraksi otot polos.
·         Arginin : Merupakan zat bakal kreatin dibentuk pada daur urea dari ornithine dan merupakan zat bakal nitric oxide.
·         Alanin : Merupakan asam amino glukogenik terpenting diekspor dari otot selama puasa dan exercise.
·         Prolin
·         Tirosin : Merupakan zat bakal melanin pada melanosit , zat bakal hormon tiroid pada kelenjar tiroid , zat bakal katekolamin , adrenalin, noradrenalin dan  penting sebagai dopamin neurotransmitter.
            Selanjutnya susunan dan komposisi asam amino yang diperoleh dihitung sesuai dengan kandungan protein totalnya dan dibandingkan dengan pola kebutuhan asam amino anak pra sekolah yang ditetapkan oleh FAO/WHO untuk memeproleh skor asam amino pembatas.
  
Proses Metabolisme Asam Amino
Asam amino terutama diperlukan dalam sintesis protein tubuh dan senyawa-senyawa lain yang secara fisiologis penting bagi metabolisme, misalnya hormone hormone ataupun neurotransmitter. Kelebihan asam amino akan segera dideaminasi dan diekskresikan sebagai ammonia dan rangka karbon, yang kemudian dioksidasi melalui siklus asam trikaboksilat menjadi energi. Namun dalam beberapa kasus tertentu akan diubah menjadi glukosa atau lemak
Pada umumnya ikan yang mengonsumsi protein dalam jumlah yang melebihi dari yang dibutuhkan bagi sintesis protein tubuh serta senyawa senyawa lain yang mengandung nitrogen, tidak akan mampu menyimpan kebutuhan protein tersebut. Kelebihan protein tersebut oleh tubuh akan dihidrolisis menjadi asam asam amino, yang segera akan dideaminasi menjadi gugus gugus amino. Kemudian, gugus amino diekskresi menjadi amonia dan residu rantai karbon dioksida melalui siklus asam trikaboksilat hingga menghasilkan energi, atau sebagian diubah menjadi lemak dan karbohidrat. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika kadar protein ransum ditingkatkan dan kadar karbohidrat diturunkan, maka aktivitas dari enzim glukoneogeik (pembentuk karbohidrat) meningkat dan aktivitas enzim glikolitik (pemecah karbohidrat) menurun.
Reaksi yang ditunjukkan oleh metabolisme asam amino pada mulanya akan melibatkan proses pemindahan gugus amino yang kemudian akan dilanjutkan dengan proses mengubah senyawa karbon yang terdapat pada senyawa asam amino. Proses pemindahan gugus amino ini terbagi atas 2 proses, yaitu proses transaminasi dan deaminasi.

1. Proses Transaminasi
Proses transaminasi merupakan proses katabolisme yang melibatkan proses pemindahan gugus amino satu dengan yang lainnya. Dalam proses ini, gugus amino akan dipindah ke salah satu dari tiga senyawa keto, tiga senyawa tersebut adalah asam piruvat, oksaloasetat dan alpa ketoglutarat. Pada transaminasi terdapat 2 enzim yang mempengaruhi, yaitu glutamat transaminase dan alanin transaminase. Kedua enzim tersebut berperan sebagai katalis dalam reaksi transaminsai.
Sifat dari reaksi transaminasi ini adalah reversible. Dimana ketika proses ini berjalan gugus amino yang dilepaskan tidak akan hilang, hal tersebut dikarenakan pelepasan gugus amino akan diterima oleh asam keto. Enzim alanin transaminase adalah enzim yang memiliki ciri khas apabila bertemu dengan asam piruvat-alanin, yaitu memiliki sepasang substrat yang tidak ditemukan di asam amino yang lain. Hal ini menyebabkan alanin transaminase secara bebas dapat merubah asam amino menjadi senyawa alanin, dengan pengecualian masih memiliki asam piruvat. Sedangkan enzim glutamat transaminase adalah enzim yang memiliki ciri khas apabila bertemu dengan glutamat-ketogluratat, yaitu memiliki sepasang substrat. Fungsi dari enzim ini adalah untuk merubah asam amino menjadi senyawa asam glutamat.
Dapat disimpulkan bahwa hasil dari reaksi transaminasi adalah asam glutamat, dimana reaksi ini bisa terjadi dalam cairan sitoplasma ataupun mitokondria pada makhluk hidup

2. Proses Deaminasi
Deaminasi merupakan proses kimiawai pada metabolisme asam amino dengan tujuan melepaskan gugus amina yang berasal dari senyawa asam amino. Dimana nantinya gugus amina yang sudah dilepaskan dan diproses akan berubah menjadi amonia. Secara umum, deaminasi terbagi atas 2 proses, yaitu deaminasi oksidatif dan deaminasi non-oksidatif.
Deaminasi Oksidatif
Deaminasi oksidatif merupakan proses metabolisme yang terjadi dalam lingkungan aerobik yang menghasilkan asam okso. Biasanya deaminasi ini terjadi pada saat malam hari ketika kita tidur, dan tempat terjadinya terdapat di hati meskipun proses deaminasi asam glutamat terjadi di ginjal. Asam glutamat menjadi satu-satunya dari asam amino yang mengalami proses deaminasi oksidatif, hal tersebut dikarenakan asam ini adalah hasil akhir dari reaksi transaminasi. Pada proses deaminasi oksidatif, asam glutamat yang merupakan hasil akhir reaksi transaminasi akan dikonversi dalam bentuk asam keton yang akan mengalami pergantian gugus amina, gugus amina ini berubah menjadi keton. Adapun hasil dari proses ini adalah nitrogen dan non-nitrogen. Senyawa non-nitrogen nantinya akan diolah lebih lanjut melalui proses siklus Krebs dan kemudian akan disimpan dalam bentuk glikogen.
Deaminasi Non-Oksidatif
Deaminasi non-oksidatif adalah proses perubahan serin menjadi asam piruvat yang dihasilkan dari proses katalis dengan bantuan serin dehidratase. Selain itu terdapat pula proses perubahan treonin menjadi alpa ketoburitat yang dilakukan oleh treonin dehidratase. Deaminasi non-oksidatif memiliki hubungan dengan deaminasi oksidatif, dimana hasil dari deaminasi non-oksidatif yang berupa asam piruvat akan digunakan dalam proses deaminasi oksidatif.
Terlihat bahwa kumpulan asam asam amino tubuh diperoleh dari 2 sumber utama, yaitu dari makanan dan dari katabolisme protein tubuh yang merupakan proses pengubahan protein secara konsten terus-menerus. Asam asam amino non esensial disintesa melalui transfer gugus amino yang berasal dari makanan non protein menjadi asam amino α-keto. Penelitian aspek nutrisi dapat membuktikan bahwa tirosin dan sistin dapat disintesa dari fenil alanin dan metionin. Hal ini menunjukkan bahwa asam amino esensial. Degedrasi asam-asam amino terjadi dalam 2 tahap utama. Tahap pertama merupakan tahap perubahan asam-asam amino menjadi zat antara yang dapat memasuki siklus asam trikaboksilat. Adapun tahap kedua merupakan tahap oksidasi zat dalam siklus asam trikaboksilat menjadiCO2 dan H2O. Metabolisme asam amino umumnya dapat terjadi dalam 3 lintasan, yaitu 2 lintasan proses katabolisme asam amino yang meerupakan proses degedrasi dan glukonegnesis, serta 1 lintasan proses anabolisme asam amino yang merupakan sintesa protein. Ketiga proses tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1.      Degradasi asam amino
1AA + 4,6 O2 à 4,5 CO2 + 1,2 NH3 + 1,2 NH3 + 2,5 H2O + 0,03 H2S + 24,8 ATP
2.      Glikonegenesis (pengubahan menjadi glukosa)
1 AA + 2,5 O2  à 2,3 CO2 + 1,2 NH3 + 0,66 H2O + 0,35 glukosa + 11,2 ATP
3.   Sintesis protein
      1 AA + 6 ATP  à 100 protein + 1H2O

Absorbsi asam amino
Proses dalam adsorbsi asam amino dilakukan secara selektif dimana absorpsi l-asam amino lebih cepat dari pada d-asam amino. Dalam proses tersebut perlu energi (transpor aktif) yang dapat berpindah  dari kadar rendah ke tinggi. Namun pada keadaan normal tak terjadi abdsorbsi. Protein atau polipeptida pada keadaan tertentu dapat terjadi absorpsi protein / polipeptida dalam jumlah yang sedikit.

Evaluasi Kualitas Protein
Kualitas protein umumnya dievaluasi menggunakan metode biologis dan kimia, dan lebih akurat iagi adalah metode yang memasukkan parameter peitambahan berat dan retensi nitrogen sebagai kriteria kualitas protein. Metode biologi yang menggunakan parameter-parameter tersebut dianatamnya rasio efisiensi proten, nilai biologis dan pemanfaatan protein. Metode-metode tersebut menggunakan persamaan sebagai berikut:
l. Rasio efisiensi protein (PER)
                   Pertambahan bobot basah (g)
PER = ------------------------------------------------
                        Konsumsi protein (g)
2. Nilai biologis (BV)
                    Retensi nitrogen
BV =       --------------------------------------  x 100
               Nitrogren yang diabsorbsi
3. Pemanfatatan protein
                  Retensi nitrogen
NPU = ------------------------------
                   Nitrogen intake


C. Penutup
1. Latihan
1. Sebutkan komponen makanan penghasil energi untuk ikan!
2. Jelaskan kebutuhan asam amino dan protein untuk ikan!
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi kebutuhan asam lemak pada ikan? Jelaskan!
4. Jelaskan kebutuhan asam lemak pada ikan air tawar dan ikan laut!
5. Bagaimana anda membuat formulasi pakan salah satu jenis ikan yang membutuhkan kadar                protein pakan 36% dan energi 2700 kkal jika tersedia bahan baku sumber protein dan energi 
   adalah: tepung ikan (kadar protein 58%, energi 1700 kkal); tepung terigu (kadar protein   
   27% energi 2800 kkal).
6. Data pertambahan bobot tubuh adalah 240g, konsumsi protein 130g. Apakah protein yang
     terdapat di dalam pakan ikan tersebut memiliki kualitas baik?

2. Daftar pustaka
Affandi R, Sjafei DS, Rahardjo MF, Sulistiono. 2004. Fisiologi Ikan: Pencernaan. Bogor: IPB Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat.
Ahmad T, Ardiansyah M, Usmunandar D. 1992. Pengaruh pemberian pakan berkadar protein berbeda terhadap pertumbuhan kerapu lumpur, Epinephelus tauvina. Jumal Penelitian Perikanan Pantai8(2):71-80.
Ali MZ,. J aucey K. 2004. Optimal dietary carbohydrate to lipid ratio in African catfish Clarias gariepinus. J. Aqua. Int. 12: 169-180.
Anwar HM, Piliang WG. 1992. Biokimia dan Fisiologi Gizi. Bogor: [PB Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Bergot F. 1979a. Carbohydrates in rainbow trout diets: effects of the level and sources of carbohydrates and numbers of meals on growth and body composition. Aquaculture 18:157-167.
Bergot F. 1979b. Efiects of dietary carbohydrates and their model of distribution on glycaemia in rainbow trout (Salmo gairdneri Richardson). Comp. Biochem. Physiology 63A:543—547.
Brauge C, Medale F, Corraze G. 1994. Effect of dietary carbohydrate levels on growth, body composition and glycaemia in rainbow trout, Oncorhynchus mykiss, reared in seawater. Aquaculture, 23:109—120.
Cahyoko Y. 1995. Pengaruh beberapa jenis karbohidrat dalam pakan terhadap pertumbuhan benih gurami (Osphronemus goramy Lacepede) [tesis]. Bogor; Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.
Catacutan MR, Coloso RM. I997. Growth of juvenile Asian seabass, Lates calcarifer fed varying carbohydrates and lipid levels. Aquaculture 149: 13 7-l 44.
Cowey CB, De La Higuera M, Adron JW. 1977a. The effect of dietary composition and insulin on gluconeogenesis in rainbow trout (Salmo gairdneri). Br. J. Nutrition 38:385-396.
Cowey CB, Konx D, Walton MJ, Adron JW. 1977b. The regulation of gluconeogenesis by diet and insulin in rainbow trout (Salmo gairdneri). Br. J . Nutrition 38:463-470.
David DA, Amold CR. 1993. Evaluation of five carbohydrate sources for Penaeus vannamei. Aquaculture 114:285—292.
De Silva S, Anderson TA. 1995. Fish Nutrition in Aquaculture. London: Capman & Hall.
Erfanullah, Jafri AK. 1995 . Protein-sparing effect of dietary carbohydrate in diet for fingerling Labeo rohita. Aquaculture 136: 33 1-339.
Furuichi M. 1988. Dietary requirement. Di dalam: Watanabe T, editor. Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo: JICA Kanagawa Intemational Fisheries Training Centre. hlm 8-78.
Furuichi M, Yone Y. 1981. Change of blood sugar and plasma insulin levels of fishes in glucose tolerance test. Bulletin of Japanese Society of Scientific Fisheries 47:761-764.
Furuichi M, Yone Y. 1982. Availability of carbohydrate in nutrition of carp and red seabream. Bulletin of Japanese Society of Scientific Fisheries 48:945-948.
Giri NA, Suwirya K, Marzuqi M. 1999. Kebutuhan protein, lemak, dan vitamin C untuk yuwana ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Jumal Penelitian Perikanan Indonesia 5(3):3 8-46.
Hung LT, Suhenda N, Slembrouck J, Lamrd J and Moreau Y. 2004. Comparison of dietary protein and energy utilization in three Asian catfish (Pangasius bocourty, R Hypophthalmus and R Djambal). Aquacult. Nutr. 10, 317-326.
Lehninger AL. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Thenawidjaja M, penerjemah. Jakarta; Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry.
Mishra K and Samantaray K. 2004. Interacting effects of dietary lipid level and temperature on growth, body composition and fatty acid profile of Rohu, Labeo rohita (Hamilton). Aquacult. Nutr. 2004. 10,359-369.
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 1999. Biokimia. Harper. Hartono A, penerjemah. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran (EGC). Terjemahan dari: Harper’s Biochemistry.
[NRC] National Research Council, Subcommittee on Warmwater Fish Nutrition. 1977. Nutrient Requirements of Wannwater Fishes. Washington, D.C.: National Academy Pr.
[NRC] National Research Council, Subcommittee on Warmwater Fish Nutrition. 1983. Nutrient Requirements of Warmwater Fishes and Shellfishes. Washington, D.C.: National Academy Pr.
[NRC] National Research Council, Subcommittee on Warmwater Fish Nutrition. 1993. Nutrient Requirements of Fish. Washington, D.C.: National Academy Pr.
Palmer TN, Ryman BE. 1972. Studies on oral glucose intolerance in fish. J. Fish Biology 31311-319.
Peragon J, Barroso JB, Sarguero LG, de la Higuera M, Lupianez JA. 1999. Carbohydrates affect protein~turnover rates, growth and nucleic acid content in the white muscule of rainbow trout (Oncorhynchus mykiss). Aquaculture 179: 425-43 7.
Peres H, Goncalves P, Oliva-Teles A. 1999. Glucose tolerance in gilthead seabream (Sparus aurata) and European sea bass (Dicentrarchus Iabrax). Aquaculture l79:4l5—423.
Peres H, Teles AO. 1999. Effect of dietary lipid level on growth performance and feed utilization by European sea bass juveniles (Dicentrarchus Iabrax). Aquaculture l79:325—334.
Piliang WG, Djojosoebagio S. 1996. F isiologi Nnutrisi. Volume I. Jakarta; Univ Indonesi Pr.
Podoskina TA.,PodoskinaAG,Bekina EN. 1997. Efficiency of utilization of some potato starch modifications by rainbow trout (Oncarhynchus mykiss). Aquaculture l52:235—248.
Rachmansyah, Palinggi NN, Pong-Masak PR, Mangawe AG, Laining A. 1999. Formulasi pakan buatan untuk pembesaran ikan kerapu [Laporan Hasil Penelitian]. Maros Balai Penelitian Perikanan Pantai.
Salhi M, Bessonart M, Chediak G, Bellagamba M and Carnevia D. 2004. Growth, feed utilization and body composition of black catfish, Rhamdia quelen, fray fed diets containing different protein. Aquaculture 23 (1), 435-444.
Suhenda N, Setijaningsih L, Suryanti Y. 2003. Penentuan rasio antara kadar karbohidrat dan lemak pada benih ikan patin jambal (Pangasius djambal). J. Penelitian Perikanan Indonesia, Vol. 9 No. 1, 21-29.
Suwarsito. 2004. Pengaruh kadar L-karnitin berbeda dalam pakan terhadap kadar lemak daging dan pertumbuhan ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Tesis. Sekolah Pascasarjana lnstitut Pertanian Bogor. Bogor.
Suwirya K, Girina, Marzuqi, Tridjoko. 2001. Kebutuhan karbohidrat untuk pertumbuhan juvenil kerapu bebek, Cromileptes altivelis [Laporan Teknis]. Gondol-Bali: Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut.
Tacon AGJ. 1992. Nutritional Fish Pathology: Morphological signs of nutrient deficiency and toxicity in farmer fish. Roma: FAO Fish Technical Paper. No. 330.
Takeuchi T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutrient. Di dalam: Watanabe T, editor. Fish Nutrition and Mariculture. Tokyo: JICA Kanagawa International Fisheries Training Centre. hlm 179-233.
Wilson RP. 1989. Amino acid and proteins. Di dalam: Halver JE, editor. Fish Nutrition. Toronto: Academic Pr. hlm l l2-151.

Wilson RP. 1994. Utilization of dietary carbohydrate by fish. Aquaculture 124:67-80. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar